Tuesday, January 21, 2014
Niqabi Nuances: ADVICE FOR SISTERS WHO ARE THINKING OF WEARING THE...
Niqabi Nuances: ADVICE FOR SISTERS WHO ARE THINKING OF WEARING THE...: MashaAllah, there are so many sisters out there who genuinely love to wear the Niqab but are afraid of wearing it for fear of what people mi...
Hukum Memakai Cadar dalam Pandangan 4 Madzhab
Wanita bercadar seringkali diidentikkan dengan orang arab atau
timur-tengah. Padahal memakai cadar atau menutup wajah bagi wanita adalah
ajaran Islam yang didasari dalil-dalil Al Qur’an, hadits-hadits shahih serta
penerapan para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam serta para ulama yang
mengikuti mereka. Sehingga tidak benar anggapan bahwa hal tersebut merupakan
sekedar budaya timur-tengah.
Berikut ini sengaja kami bawakan pendapat-pendapat para ulama madzhab,
tanpa menyebutkan pendalilan mereka, untuk membuktikan bahwa pembahasan ini
tertera dan dibahas secara gamblang dalam kitab-kitab fiqih 4 madzhab. Lebih
lagi, ulama 4 madzhab semuanya menganjurkan wanita muslimah untuk memakai
cadar, bahkan sebagiannya sampai kepada anjuran wajib. Beberapa penukilan yang
disebutkan di sini hanya secuil saja, karena masih banyak lagi
penjelasan-penjelasan serupa dari para ulama madzhab.
Madzhab Hanafi
Pendapat madzhab Hanafi, wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar
hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan
fitnah.
* Asy Syaranbalali berkata:
وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها
باطنهما وظاهرهما في الأصح ، وهو المختار
“Seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam
serta telapak tangan luar, ini pendapat yang lebih shahih dan merupakan pilihan
madzhab kami“ (Matan Nuurul Iidhah)
* Al Imam Muhammad ‘Alaa-uddin berkata:
وجميع بدن الحرة عورة إلا وجهها وكفيها ،
وقدميها في رواية ، وكذا صوتها، وليس بعورة على الأشبه ، وإنما يؤدي إلى الفتنة ،
ولذا تمنع من كشف وجهها بين الرجال للفتنة
“Seluruh badan wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam.
Dalam suatu riwayat, juga telapak tangan luar. Demikian juga suaranya. Namun
bukan aurat jika dihadapan sesama wanita. Jika cenderung menimbulkan fitnah,
dilarang menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki” (Ad Durr Al Muntaqa, 81)
* Al Allamah Al Hashkafi berkata:
والمرأة كالرجل ، لكنها تكشف وجهها لا
رأسها ، ولو سَدَلَت شيئًا عليه وَجَافَتهُ جاز ، بل يندب
“Aurat wanita dalam shalat itu seperti aurat lelaki. Namun wajah wanita itu
dibuka sedangkan kepalanya tidak. Andai seorang wanita memakai sesuatu di
wajahnya atau menutupnya, boleh, bahkan dianjurkan” (Ad Durr Al Mukhtar, 2/189)
* Al Allamah Ibnu Abidin berkata:
تُمنَعُ من الكشف لخوف أن يرى الرجال
وجهها فتقع الفتنة ، لأنه مع الكشف قد يقع النظر إليها بشهوة
“Terlarang bagi wanita menampakan wajahnya karena khawatir akan dilihat
oleh para lelaki, kemudian timbullah fitnah. Karena jika wajah dinampakkan,
terkadang lelaki melihatnya dengan syahwat” (Hasyiah ‘Alad Durr Al
Mukhtaar, 3/188-189)
* Al Allamah Ibnu Najiim berkata:
قال مشايخنا : تمنع المرأة الشابة من كشف
وجهها بين الرجال في زماننا للفتنة
“Para ulama madzhab kami berkata bahwa terlarang bagi wanita muda untuk
menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki di zaman kita ini, karena
dikhawatirkan menimbulkan fitnah” (Al Bahr Ar Raaiq, 284)
Beliau berkata demikian di zaman beliau, yaitu beliau wafat pada tahun 970
H, bagaimana dengan zaman kita sekarang?
Madzhab Maliki
Mazhab Maliki berpendapat bahwa wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai
cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan
menimbulkan fitnah. Bahkan sebagian ulama Maliki berpendapat seluruh tubuh
wanita adalah aurat.
* Az Zarqaani berkata:
وعورة الحرة مع رجل أجنبي مسلم غير الوجه
والكفين من جميع جسدها ، حتى دلاليها وقصَّتها . وأما الوجه والكفان ظاهرهما
وباطنهما ، فله رؤيتهما مكشوفين ولو شابة بلا عذر من شهادة أو طب ، إلا لخوف فتنة
أو قصد لذة فيحرم ، كنظر لأمرد ، كما للفاكهاني والقلشاني
“Aurat wanita di depan lelaki muslim ajnabi adalah seluruh tubuh selain
wajah dan telapak tangan. Bahkan suara indahnya juga aurat. Sedangkan wajah,
telapak tangan luar dan dalam, boleh dinampakkan dan dilihat oleh laki-laki
walaupun wanita tersebut masih muda baik sekedar melihat ataupun untuk tujuan
pengobatan. Kecuali jika khawatir timbul fitnah atau lelaki melihat wanita
untuk berlezat-lezat, maka hukumnya haram, sebagaimana haramnya melihat amraad. Hal ini juga diungkapkan oleh Al Faakihaani dan Al Qalsyaani” (Syarh Mukhtashar Khalil, 176)
* Ibnul Arabi berkata:
والمرأة كلها عورة ، بدنها ، وصوتها ، فلا
يجوز كشف ذلك إلا لضرورة ، أو لحاجة ، كالشهادة عليها ، أو داء يكون ببدنها ، أو
سؤالها عما يَعنُّ ويعرض عندها
“Wanita itu seluruhnya adalah aurat. Baik badannya maupun suaranya. Tidak
boleh menampakkan wajahnya kecuali darurat atau ada kebutuhan mendesak seperti
persaksian atau pengobatan pada badannya, atau kita dipertanyakan apakah ia
adalah orang yang dimaksud (dalam sebuah persoalan)” (Ahkaamul Qur’an, 3/1579)
* Al Qurthubi berkata:
قال ابن خُويز منداد ــ وهو من كبار علماء
المالكية ـ : إن المرأة اذا كانت جميلة وخيف من وجهها وكفيها الفتنة ، فعليها ستر
ذلك ؛ وإن كانت عجوزًا أو مقبحة جاز أن تكشف وجهها وكفيها
“Ibnu Juwaiz Mandad – ia adalah ulama besar Maliki – berkata: Jika seorang
wanita itu cantik dan khawatir wajahnya dan telapak tangannya menimbulkan
fitnah, hendaknya ia menutup wajahnya. Jika ia wanita tua atau wajahnya jelek,
boleh baginya menampakkan wajahnya” (Tafsir Al Qurthubi, 12/229)
* Al Hathab berkata:
واعلم أنه إن خُشي من المرأة الفتنة يجب
عليها ستر الوجه والكفين . قاله القاضي عبد الوهاب ، ونقله عنه الشيخ أحمد زرّوق
في شرح الرسالة ، وهو ظاهر التوضيح
“Ketahuilah, jika dikhawatirkan terjadi fitnah maka wanita wajib menutup wajah
dan telapak tangannya. Ini dikatakan oleh Al Qadhi Abdul Wahhab, juga dinukil
oleh Syaikh Ahmad Zarruq dalam Syarhur Risaalah. Dan inilah pendapat yang lebih
tepat” (Mawahib Jaliil, 499)
* Al Allamah Al Banaani, menjelaskan pendapat Az Zarqani di atas:
وهو الذي لابن مرزوق في اغتنام الفرصة
قائلًا : إنه مشهور المذهب ، ونقل الحطاب أيضًا الوجوب عن القاضي عبد الوهاب ، أو
لا يجب عليها ذلك ، وإنما على الرجل غض بصره ، وهو مقتضى نقل مَوَّاق عن عياض .
وفصَّل الشيخ زروق في شرح الوغليسية بين الجميلة فيجب عليها ، وغيرها فيُستحب
“Pendapat tersebut juga dikatakan oleh Ibnu Marzuuq dalam kitab Ightimamul Furshah, ia berkata: ‘Inilah pendapat yang
masyhur dalam madzhab Maliki’. Al Hathab juga menukil perkataan Al Qadhi Abdul
Wahhab bahwa hukumnya wajib. Sebagian ulama Maliki menyebutkan pendapat bahwa
hukumnya tidak wajib namun laki-laki wajib menundukkan pandangannya. Pendapat
ini dinukil Mawwaq dari Iyadh. Syaikh Zarruq dalam kitab Syarhul Waghlisiyyah merinci, jika cantik maka wajib, jika
tidak cantik maka sunnah” (Hasyiyah ‘Ala Syarh Az Zarqaani, 176)
Madzhab Maliki
Mazhab Maliki berpendapat bahwa wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai
cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan
menimbulkan fitnah. Bahkan sebagian ulama Maliki berpendapat seluruh tubuh
wanita adalah aurat.
* Az Zarqaani berkata:
وعورة الحرة مع رجل أجنبي مسلم غير الوجه
والكفين من جميع جسدها ، حتى دلاليها وقصَّتها . وأما الوجه والكفان ظاهرهما
وباطنهما ، فله رؤيتهما مكشوفين ولو شابة بلا عذر من شهادة أو طب ، إلا لخوف فتنة
أو قصد لذة فيحرم ، كنظر لأمرد ، كما للفاكهاني والقلشاني
“Aurat wanita di depan lelaki muslim ajnabi adalah seluruh tubuh selain
wajah dan telapak tangan. Bahkan suara indahnya juga aurat. Sedangkan wajah,
telapak tangan luar dan dalam, boleh dinampakkan dan dilihat oleh laki-laki
walaupun wanita tersebut masih muda baik sekedar melihat ataupun untuk tujuan
pengobatan. Kecuali jika khawatir timbul fitnah atau lelaki melihat wanita
untuk berlezat-lezat, maka hukumnya haram, sebagaimana haramnya melihat amraad. Hal ini juga diungkapkan oleh Al Faakihaani dan Al Qalsyaani” (Syarh Mukhtashar Khalil, 176)
* Ibnul Arabi berkata:
والمرأة كلها عورة ، بدنها ، وصوتها ، فلا
يجوز كشف ذلك إلا لضرورة ، أو لحاجة ، كالشهادة عليها ، أو داء يكون ببدنها ، أو
سؤالها عما يَعنُّ ويعرض عندها
“Wanita itu seluruhnya adalah aurat. Baik badannya maupun suaranya. Tidak
boleh menampakkan wajahnya kecuali darurat atau ada kebutuhan mendesak seperti
persaksian atau pengobatan pada badannya, atau kita dipertanyakan apakah ia
adalah orang yang dimaksud (dalam sebuah persoalan)” (Ahkaamul Qur’an, 3/1579)
* Al Qurthubi berkata:
قال ابن خُويز منداد ــ وهو من كبار علماء
المالكية ـ : إن المرأة اذا كانت جميلة وخيف من وجهها وكفيها الفتنة ، فعليها ستر
ذلك ؛ وإن كانت عجوزًا أو مقبحة جاز أن تكشف وجهها وكفيها
“Ibnu Juwaiz Mandad – ia adalah ulama besar Maliki – berkata: Jika seorang
wanita itu cantik dan khawatir wajahnya dan telapak tangannya menimbulkan
fitnah, hendaknya ia menutup wajahnya. Jika ia wanita tua atau wajahnya jelek,
boleh baginya menampakkan wajahnya” (Tafsir Al Qurthubi, 12/229)
* Syaikh Muhammad bin Qaasim Al Ghazzi, penulis Fathul Qaarib, berkata:
وجميع بدن المرأة الحرة عورة إلا وجهها
وكفيها ، وهذه عورتها في الصلاة ، أما خارج الصلاة فعورتها جميع بدنها
“Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini
aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh
badan” (Fathul Qaarib, 19)
* Ibnu Qaasim Al Abadi berkata:
فيجب ما ستر من الأنثى ولو رقيقة ما عدا
الوجه والكفين . ووجوب سترهما في الحياة ليس لكونهما عورة ، بل لخوف الفتنة غالبًا
“Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah telapak tangan,
walaupun penutupnya tipis. Dan wajib pula menutup wajah dan telapak tangan,
bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya cenderung
menimbulkan fitnah” (Hasyiah Ibnu Qaasim ‘Ala Tuhfatul
Muhtaaj, 3/115)
* Taqiyuddin Al Hushni, penulis Kifaayatul
Akhyaar, berkata:
ويُكره أن يصلي في ثوب فيه صورة وتمثيل ،
والمرأة متنقّبة إلا أن تكون في مسجد وهناك أجانب لا يحترزون عن النظر ، فإن خيف
من النظر إليها ما يجر إلى الفساد حرم عليها رفع النقاب
“Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan.
Makruh pula wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat. Kecuali jika di masjid
kondisinya sulit terjaga dari pandnagan lelaki ajnabi. Jika wanita khawatir
dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya
melepaskan niqab (cadar)” (Kifaayatul Akhyaar, 181)
Madzhab Hambali
* Imam Ahmad bin Hambal berkata:
كل شيء منها ــ أي من المرأة الحرة ــ عورة
حتى الظفر
“Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat, termasuk pula kukunya” (Dinukil
dalam Zaadul Masiir, 6/31)
* Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz Al ‘Anqaari, penulis Raudhul Murbi’, berkata:
« وكل الحرة البالغة عورة حتى ذوائبها ،
صرح به في الرعاية . اهـ إلا وجهها فليس عورة في الصلاة . وأما خارجها فكلها عورة
حتى وجهها بالنسبة إلى الرجل والخنثى وبالنسبة إلى مثلها عورتها ما بين السرة إلى
الركبة
“Setiap bagian tubuh wanita yang baligh adalah aurat, termasuk pula sudut
kepalanya. Pendapat ini telah dijelaskan dalam kitab Ar Ri’ayah… kecuali wajah, karena wajah bukanlah aurat di dalam
shalat. Adapun di luar shalat, semua bagian tubuh adalah aurat, termasuk pula
wajahnya jika di hadapan lelaki atau di hadapan banci. Jika di hadapan sesama
wanita, auratnya antara pusar hingga paha” (Raudhul Murbi’, 140)
* Ibnu Muflih berkata:
« قال أحمد : ولا تبدي زينتها إلا لمن في
الآية ونقل أبو طالب :ظفرها عورة ، فإذا خرجت فلا تبين شيئًا ، ولا خُفَّها ، فإنه
يصف القدم ، وأحبُّ إليَّ أن تجعل لكـمّها زرًا عند يدها
“Imam Ahmad berkata: ‘Maksud ayat tersebut adalah, janganlah mereka (wanita) menampakkan perhiasan mereka kecuali
kepada orang yang disebutkan di dalam ayat‘. Abu Thalib menukil penjelasan dari
beliau (Imam Ahmad): ‘Kuku wanita termasuk aurat. Jika mereka keluar, tidak
boleh menampakkan apapun bahkan khuf (semacam kaus kaki),
karena khuf itu masih menampakkan
lekuk kaki. Dan aku lebih suka jika mereka membuat semacam kancing tekan di
bagian tangan’” (Al Furu’, 601-602)
* Syaikh Manshur bin Yunus bin Idris Al Bahuti, ketika menjelaskan matan Al Iqna’ , ia berkata:
« وهما » أي : الكفان . « والوجه » من
الحرة البالغة « عورة خارجها » أي الصلاة « باعتبار النظر كبقية بدنها »
“’Keduanya, yaitu dua telapak tangan dan wajah adalah aurat di luar shalat
karena adanya pandangan, sama seperti anggota badan lainnya” (Kasyful Qanaa’, 309)
* Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata:
القول الراجح في هذه المسألة وجوب ستر
الوجه عن الرجال الأجانب
“Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah wajib hukumnya bagi wanita
untuk menutup wajah dari pada lelaki ajnabi” (Fatawa Nurun ‘Alad Darb,http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_4913.shtml)
Cadar Adalah Budaya Islam
Dari pemaparan di atas, jelaslah bahwa memakai cadar (dan juga jilbab)
bukanlah sekedar budaya timur-tengah, namun budaya Islam dan ajaran Islam yang
sudah diajarkan oleh para ulama Islam sebagai pewaris para Nabi yang memberikan
pengajaran kepada seluruh umat Islam, bukan kepada masyarakat timur-tengah
saja. Jika memang budaya Islam ini sudah dianggap sebagai budaya lokal oleh
masyarakat timur-tengah, maka tentu ini adalah perkara yang baik. Karena memang
demikian sepatutnya, seorang muslim berbudaya Islam.
Diantara bukti lain bahwa cadar (dan juga jilbab) adalah budaya Islam :
1. Sebelum turun ayat
yang memerintahkan berhijab atau berjilbab, budaya masyarakat arab Jahiliyah
adalah menampakkan aurat, bersolek jika keluar rumah, berpakaian seronok atau
disebut dengan tabarruj. Oleh karena itu
Allah Ta’ala berfirman:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ
الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ
“Hendaknya kalian (wanita muslimah), berada di rumah-rumah kalian dan
janganlah kalian ber-tabarruj sebagaimana yang dilakukan wanita jahiliyah
terdahulu” (QS. Al Ahzab: 33)
Sedangkan, yang disebut dengan jahiliyah adalah masa ketika Rasulullah Shallalahu’alihi Wasallam belum di utus. Ketika Islam datang, Islam mengubah budaya buruk ini dengan memerintahkan para wanita untuk berhijab. Ini membuktikan bahwa hijab atau jilbab adalah budaya yang berasal dari Islam.
Sedangkan, yang disebut dengan jahiliyah adalah masa ketika Rasulullah Shallalahu’alihi Wasallam belum di utus. Ketika Islam datang, Islam mengubah budaya buruk ini dengan memerintahkan para wanita untuk berhijab. Ini membuktikan bahwa hijab atau jilbab adalah budaya yang berasal dari Islam.
2. Ketika turun ayat
hijab, para wanita muslimah yang beriman kepada Rasulullah Shallalahu’alaihi Wasallam seketika itu mereka mencari kain apa
saja yang bisa menutupi aurat mereka. ‘Aisyah Radhiallahu’anha berkata:
مَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ ( وَلْيَضْرِبْنَ
بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ ) أَخَذْنَ أُزْرَهُنَّ فَشَقَّقْنَهَا مِنْ
قِبَلِ الْحَوَاشِي فَاخْتَمَرْنَ بِهَا
“(Wanita-wanita
Muhajirin), ketika turun ayat ini: “Dan hendaklah mereka
menutupkan kain kudung ke dada (dan leher) mereka.” (QS. Al Ahzab An Nuur: 31), mereka
merobek selimut mereka lalu mereka berkerudung dengannya.” (HR. Bukhari 4759)
Menunjukkan bahwa sebelumnya mereka tidak berpakaian yang menutupi aurat-aurat mereka sehingga mereka menggunakan kain yang ada dalam rangka untuk mentaati ayat tersebut.
Menunjukkan bahwa sebelumnya mereka tidak berpakaian yang menutupi aurat-aurat mereka sehingga mereka menggunakan kain yang ada dalam rangka untuk mentaati ayat tersebut.
Singkat kata, para ulama sejak dahulu telah membahas hukum memakai cadar
bagi wanita. Sebagian mewajibkan, dan sebagian lagi berpendapat hukumnya
sunnah. Tidak ada diantara mereka yang mengatakan bahwa pembahasan ini hanya
berlaku bagi wanita muslimah arab atau timur-tengah saja. Sehingga tidak benar
bahwa memakai cadar itu aneh, ekstrim, berlebihan dalam
beragama, atau ikut-ikutan budaya negeri arab.
HIJAB ON THE LIGHTER SIDE
I was browsing through Facebook and I just saw this story. I really had to share it:
A non Muslim woman once barged into a lecture. She was very angry and she was yelling out aloud. She started pointing at the Muslim women, and exclaimed, "Why are they covered?!"
The speaker said to her, "Well, I see you're covered too. You're wearing clothes and yet you were born naked. Why?"
The women replied after hesitating for a few moments: "Modesty!"
The women replied after hesitating for a few moments: "Modesty!"
The Shaykh smiled and pointed at her saying 'modesty' and then pointing towards the Muslim women 'more modesty!'
Kamal El Mekki takes it further but recommends you not to try this for obvious reasons (seriously, don't try it!)
If the argument is that if you're covered, then you are oppressed, and the more uncovered (naked) you are then the more liberated you are. Therefore essentially you could tell a woman: 'Well, I see you're not liberated fully, why don't you liberate yourself some more then?
Kamal El Mekki takes it further but recommends you not to try this for obvious reasons (seriously, don't try it!)
If the argument is that if you're covered, then you are oppressed, and the more uncovered (naked) you are then the more liberated you are. Therefore essentially you could tell a woman: 'Well, I see you're not liberated fully, why don't you liberate yourself some more then?
Subscribe to:
Posts (Atom)